Lynx menghentikan langkahnya, memasang telinga. Teriakan itu diiringi geraman rendah seekor binatang. Ia segera berlari menuju arah suara, melompat di atas akar-akar besar dan dedaunan lebat. Ketika ia tiba, pemandangan yang tidak biasa menyambutnya.

Seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun bergelantungan terbalik di udara, kakinya terjerat tali jebakan yang menggantungnya di dahan pohon. Anak itu gemuk, tapi cukup lincah saat berusaha mengayunkan tubuhnya untuk menghindari cakar seekor macan tutul yang melompat-lompat di bawahnya.

"Kau ini macan atau kucing lapar?! Pergilah sana!" Anak itu mengayunkan tubuhnya lebih keras, tapi macan tetap berusaha mencapainya. "Aduh, jauh-jauh kau! Aku ini nggak enak dimakan! Aku penuh lemak, bukan daging!" teriak anak itu sambil berayun liar.

Lynx menahan tawa melihat pemandangan itu. Ia berjalan mendekat, melangkah ringan tanpa suara, hingga berdiri hanya beberapa meter dari macan.

"Hei, kucing besar," panggil Lynx santai. "Bagaimana kalau kau mencari makan di tempat lain? Apa kamu tidak dengar kata anak itu, dia terlalu banyak lemak, bukan daging." Lanjutnya sambil tertawa.

Macan itu menoleh dengan geraman, tetapi Lynx tidak mundur. Dengan tenang, ia berjalan mengelilingi macan, mengalihkan perhatian binatang itu. Ketika macan itu mencoba melompat, Lynx menghindar dengan mudah, membuat binatang itu bingung.

"Yah, kasihan kau, jadi lapar gara-gara jebakan bodoh ini," ejek Lynx sambil menepuk ekor macan. Lynx menggodanya sambil melompat untuk menghindari setiap serangannya dengan kecepatan luar biasa.

"Coba tangkap aku kalau bisa!" Lynx tertawa, berlari zig zag di depan macan.

Macan itu mencoba mengejarnya, melompat dengan cakar terulur, tetapi Lynx terlalu cepat. Setiap serangan meleset, dan macan itu mulai kelelahan. Setelah beberapa menit, macan itu menggeram keras, memutar tubuhnya, lalu pergi dengan langkah berat ke dalam hutan.

Anak yang tergantung itu berhenti mengayun, menghela napas lega. "Akhirnya! Aku pikir aku akan jadi makan malamnya."

"Yah, aku cuma mau bercanda, sudah pergi duluan," kata Lynx sambil menepuk-nepuk tangan. Ia lalu mendongak ke arah anak yang masih bergelantungan.

Anak itu mendengus, wajahnya merah padam. "Apa maksudmu bercanda? Aku hampir dimakan di sini, tahu."

Lynx tertawa sambil mendekat. "Baiklah, baiklah. Ayo, aku akan menurunkanmu."

Lynx mendekat dan memotong tali jebakan dengan satu gerakan cepat. Ia menangkap anak itu sebelum jatuh ke tanah. Anak itu berdiri, mengusap-usap kakinya yang masih terasa kebas, lalu menatap Lynx penuh rasa penasaran.

"Kau siapa? Dan kenapa kau bisa lari lebih cepat dari macan?" tanyanya, ekspresinya campuran antara kagum dan curiga.

"Aku Lynx," jawab Lynx sambil tersenyum."Dan soal lari lebih cepat, yah... itu semacam kelebihan kecilku. Bagaimana denganmu ? Kenapa anak kecil seperti dirimu bisa di hutan sendirian dan terkena jebakan?"

Wajah anak itu memerah. "Aku Kanha! Aku dari suku Uksa. Dan aku bukan anak kecil! Aku cuma... ya, sedikit apes saja."

"Benarkah?" Lynx mengangkat alis, menahan tawa. "Jadi, bagaimana kau bisa terjebak seperti ini?"

Kanha menghela napas panjang, wajahnya sedikit masam. "Dengar, ini sebenarnya ide bagus. Aku sudah terbiasa membuat jebakan sejak kecil. Kami di suku Uksa hidup dari berburu dan jebakan, tahu?"

"Lalu kenapa kau malah tergantung seperti buah kelapa?" tanya Lynx, pura-pura bingung.

Kanha mendengus. "Aku cuma mau membuktikan pada warga desa kalau aku ini sudah besar dan hebat. Mereka suka menertawakanku karena aku... ya, agak gemuk. Tapi aku lincah, dan aku mau mereka tahu aku bisa menangkap macan sendirian!"

Lynx terkekeh. "Jadi, kau ingin membuktikan kalau kau ini pemburu ulung?"

"Betul!" jawab Kanha dengan bangga. Tapi wajahnya berubah sedikit malu. "Masalahnya, setelah jebakanku selesai, macan itu datang lebih cepat dari yang kuduga. Aku mau kabur, tapi malah menginjak jebakanku sendiri."

Lynx tertawa keras, membuat Kanha semakin merah. "Itu... luar biasa, Kanha. Jebakan yang bisa menangkap pembuatnya sendiri. Aku terkesan."

"Sudah, sudah. Jangan menertawakanku," protes Kanha, menyilangkan tangan di dada. Ia memperhatikan Lynx dengan tatapan waspada. "Kau bilang kau Lynx, tapi kenapa kau ada di sini? Apa kau mata-mata Monrest?"

Lynx menahan tawa. "Aku? Mata-mata? Tidak, aku hanya sedang mencari suku Uksa. Aku punya pesan penting untuk kepala suku kalian."

Kanha menyipitkan mata, jelas masih curiga. "Pesan apa? Kau tidak kelihatan seperti pembawa pesan."

"Itu antara aku dan kepala suku," jawab Lynx santai. "Kalau kau tidak percaya, kau bisa membawaku ke sana."

Kanha merenung sejenak. Di dalam hatinya, ia berpikir, "orang ini mencurigakan. Kalau dia jahat, aku harus menangkapnya dulu sebelum dia sampai ke desa."

"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan membawamu. Tapi jangan macam-macam."

Dalam perjalanan, Kanha diam-diam mencoba menjebak Lynx. Ia berpikir keras, "kalau aku bisa menangkapnya dengan jebakanku, aku akan jadi pahlawan di desa."

"Ayo lewat sini," kata Kanha, menunjuk ke jalur yang penuh dedaunan. Jebakan tali tersembunyi di bawahnya.

Lynx melangkah maju, tapi pandangannya yang tajam langsung menangkap keanehan di tanah. Ia tersenyum kecil, pura-pura tidak tahu. Ketika ia mendekati jebakan, ia melompat ringan ke sisi lain, melewatinya tanpa menyentuh apa pun.

Kanha terkejut. "Kau... kau berhasil melewatinya?"

"Kenapa?" tanya Lynx, pura-pura tidak paham. "Ada yang salah?"

"Tidak, tidak," jawab Kanha cepat, wajahnya memerah lagi. Ia berpikir lagi, "Baiklah, jebakan ini terlalu mudah. Aku akan membawanya ke yang lebih sulit."

Mereka melanjutkan perjalanan, dan Kanha terus mencoba mengarahkan Lynx ke jebakan lain—lubang yang tertutup dedaunan, tali yang terikat di pohon, bahkan perangkap batu yang ia buat sendiri. Tapi Lynx dengan mudah menghindari semuanya tanpa terlihat mencurigakan.

Akhirnya, Kanha kesal dan tidak sadar menginjak salah satu jebakannya sendiri. Dengan bunyi "plak!", tali melilit kakinya, dan ia tergantung terbalik untuk kedua kalinya.

Lynx tidak bisa menahan tawanya. "Kanha, kau benar-benar ahli jebakan. Tapi aku rasa kau lebih sering menjebak dirimu sendiri daripada orang lain."

"Diam kau!" teriak Kanha, wajahnya merah padam. "Turunkan aku sekarang!"

Lynx memotong tali jebakan dengan mudah dan menangkap Kanha sebelum ia jatuh. "Kalau kau terus seperti ini, aku tidak yakin kau bisa sampai di desa tanpa tergantung lagi."

Kanha mendengus, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. "Kau pintar, ya. Tapi jangan pikir aku menyerah. Aku akan menangkapmu suatu hari nanti!"

"Aku tunggu," balas Lynx sambil terkekeh.

Dengan langkah yang lebih hati-hati, mereka melanjutkan perjalanan menuju desa Uksa. Meskipun pertemuan mereka dimulai dengan keusilan, Lynx merasa cocok dengan Kanha, selain anaknya yang berbakat, ia juga memiliki semangat yang luar biasa—meskipun kadang agak terlalu percaya diri.

Setelah upaya menjebak Lynx berkali-kali gagal, Kanha mulai merasa frustrasi. Anak itu berjalan dengan wajah cemberut, sesekali melirik Lynx yang terlihat tenang dan tidak terpengaruh sama sekali.

"Dia ini apa, ya? Bukan manusia biasa pasti! Tapi aku tidak akan kalah... aku harus bikin dia malu!" pikir Kanha.

Tiba-tiba, ide nakal muncul di benaknya. Dengan ekspresi polos, ia menunjuk ke arah timur. "Ayo, aku akan tunjukkan dimana orang dari suku kami berkumpul. Mungkin mereka bisa membantu menjelaskan apa yang kau cari."

Lynx tersenyum kecil, mengikuti langkah Kanha tanpa curiga. "Bagus. Semakin cepat aku bertemu dengan kepala suku kalian, semakin baik."

Dalam hatinya, Kanha menyeringai. "Kau lihat saja nanti. Kali ini aku akan menang!"

Mereka tiba di sebuah area yang lebih terbuka, dikelilingi pohon-pohon tinggi dengan beberapa jebakan dan perangkap yang tersembunyi di sekitar. Di sana, tampak lima atau enam pria dari suku Uksa sedang duduk di sekitar api kecil, berbincang santai sambil memperbaiki alat-alat jebakan mereka.

"Ini mereka," kata Kanha sambil tersenyum manis. Namun, begitu mereka mendekat, ekspresi Kanha berubah dramatis. Ia tiba-tiba berteriak keras.

"Tolong! Tolong aku!"

Kanha berlari ke arah pria-pria itu dengan wajah ketakutan, seolah-olah baru saja lolos dari sesuatu yang mengerikan. "Ada orang jahat! Dia mau menangkapku!"

Lynx berhenti dengan alis terangkat, memandang Kanha dengan ekspresi bingung. "Apa—"

Pria-pria Uksa langsung berdiri, wajah mereka berubah marah. "Siapa kau?!" salah satu dari mereka berteriak, menunjuk Lynx dengan tombak di tangan.

"Aku bukan—" Lynx mencoba berbicara, tetapi pria itu memotongnya.

"Kau pikir bisa datang ke sini dan mengancam anak-anak kami?" bentak yang lain.

"Kau berani menyentuh Kanha, kami akan menyerahkanmu langsung ke kepala suku untuk dihukum!" teriak pria lain sambil mengangkat senjata.

Lynx mengangkat tangan, mencoba menenangkan mereka. "Tunggu sebentar. Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin bertemu dengan kepala suku kalian untuk menyampaikan sesuatu yang penting."

"Kau pikir kami akan percaya?" Pria pertama melangkah maju. "Kanha sudah bilang kau mencoba menangkapnya!"

Di belakang mereka, Kanha berusaha menahan tawa sambil menjulurkan lidah ke arah Lynx. "Akhirnya! Aku berhasil! Lihat saja wajahnya sekarang."

Lynx memandang Kanha dengan pandangan datar. "Kau serius?"

Kanha hanya mengangkat bahu dengan wajah polos, tetapi matanya bersinar nakal.

Pria-pria itu mulai mendekat dengan senjata terangkat. Lynx menghela napas panjang. "Baiklah, kalau begitu. Aku tidak ingin melukai kalian, tapi aku juga tidak akan membiarkan diriku ditangkap begitu saja."

Pria pertama melompat ke arah Lynx dengan tombak, tetapi Lynx menghindar dengan mudah, melangkah ke samping dan membuat pria itu kehilangan keseimbangan. Pria kedua mencoba menangkapnya dari belakang, tetapi Lynx membungkuk dengan cepat, sehingga keduanya bertabrakan keras.

"Maaf," kata Lynx dengan senyum tipis.

Pria ketiga menyerang dengan tongkat kayu, tetapi Lynx melompat tinggi, mendarat di atas dahan pohon rendah. "Kalian ini cepat marah, ya?" ia menggoda sambil mengayunkan kakinya seperti sedang santai.

"Turun kau!" teriak pria itu, mencoba menggapainya dengan tongkat.

Lynx melompat turun, mendarat mulus di belakang mereka. Saat salah satu pria berbalik untuk menyerangnya, Lynx hanya melangkah ke samping, membuat pria itu terhuyung ke arah pria lainnya. Tombak hampir terlepas dari tangan mereka saat mereka bertabrakan lagi.

"Lynx! Ayo tangkap aku kalau bisa!" teriak Kanha dari kejauhan, berusaha memprovokasi sambil tertawa keras.

Lynx hanya menggeleng. "Anak ini terlalu suka mengerjai orang," gumamnya.



